Remaja Zaman Now
Oleh: Yayuk Fatmawati, Pelajar asal Blitar
LIMA bulan berpacaran, FPS (17) siswi SMP baru
mengetahui kalau kekasihnya yang selama ini dia cintai adalah seorang
perempuan. Ia langsung syok dan menangis sedih, apalagi selama berpacaran sudah
6 bulan mereka melakukan hubungan badan. Kepada penyidik FPS bercerita ia
melakukan hubungan badan sampai keperawanan FPS hilang. Atas dasar cinta FPS
merelakan walaupun mahkotanya sebagai seorang perempuan harus hilang. “Dari
pengakuannya sudah lima kali mereka melakukan hubungan badan. Dua kali di
kos-kosan dekat lai-lai, kemudian tiga kali di kosan belakang Sping. Kosan itu
adalah milik teman-temannya,” sebut Kanit Reskrim Polsek Batu Ampar Iptu Ferry
Supriadi, Kamis (9/11/2017) siang.
(Tribunnews.com)
Pelaku diketahui berinisial SD (21), tidak pernah
mengakui dirinya perempuan. Saat berhubungan badan pelaku menggunakan baju dan
celana dalam dan melakukan hubungan di dalam selimut. “Dari pengakuan korban
memang keperawanannya hilang saat melakukan hubungan badan ini, tetapi dia
tidak tahu pakai apa, tentunya pakai alat apa alatnya kita tidak tahu,”
tegasnya.
Pasangan lesbi ini akhirnya di bawa ke Polsek Lubuk
Baja untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sekarang SD sudah diamankan oleh
pihak kepolisian, namun FPS sudah dipulangkan oleh pihak kepolisisan. Terakhir
dikatakan Ferry, walaupun perempuan SD berperawakan seperti seoreang lelaki
biasa, bahkan buah dadanya tidak seperti perempuan biasa normal.
Kasus di atas hanyalah segelintir kasus yang
diakibatkan oleh remaja dan anak-anak zaman sekarang. Kata mereka, generasi
‘kids zaman now’. Pada faktanya kids
zaman now, mereka berbuat tanpa pernah berpikir apa dampak yang akan
ditimbulkan. Contoh yang tidak asing lagi seperti hamil di luar ikatan
pernikahan yang diakibatkan oleh pergaulan bebas. Kasus seperti ini sudah
menjadi berita sehari-hari yang kerap kali muncul. Mereka berpacaran mengikuti
tren orang barat. Mereka meniru apa yang orang barat lakukan ketika berpacaran.
Miris sekali melihat akhlak anak-anak beserta pemuda
dan pemudi saat ini. Mereka yang seharusnya dipersiapkan untuk menjadi generasi
pejuang di masa depan memiliki akhlak yang bobrok. Kenapa hal ini terjadi? Hal
ini terjadi karena rusaknya sistem di suatu Negara. Negara seharusnya
menanamkan nilai-nilai islamiyah pada semua aspek kehidupan. Siapakah yang bisa
disalahkan ketika kondisi generasi penerus sudah seperti ini? Apakah kesalahan
mutlak pada orang tua dan guru yang mendidik anak di rumah dan di sekolah?
Tidak. Pemerintah pun turut andil dalam hal ini. Pemerintah seyogyanya
memberikan edukasi parenting kepada para pemuda, terutama kepada pemudi sebagai
bekal persiapan dirinya untuk berumah tangga dan mengasuh anak. Sehingga ketika
para pemuda dan pemudi menikah sudah memiliki bekal untuk setiap permasalahan
rumah tangganya termasuk bagaimana mendidik anak secara Islam.
Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak
menuju dewasa. Dalam tahap ini, remaja mulai mencari jati dirinya
masing-masing. Masa remaja adalah masa di mana seseorang mengalami emosi yang
tidak stabil. Oleh karena itu diperlukan kontrol dan pendampingan orang tua
agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kontrol pemerintah terhadap edukasi parenting dapat
diterapkan ketika suatu Negara menerapkan ideologi Islam. Dapat dilihat
keberhasilan Islam dalam membentuk suatu generasi pejuang, yang tercermin pada
era ke-Khilafahan :
Usamah bin Zaid 18 tahun; memimpin pasukan yang
anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk
menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun; yang pertama kali
melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari 6 orang ahlus syuro,
Rasulullah saw bersabda tentangnya “Ini adalah pamanku, ayo mana paman kalian”
Al-Arqom bin Abil Arqom 16 tahun; menjadikan
rumahnya sebagai markas dakwah Rasul saw selama 13 tahun berturut-turut.
Zubeir bin Awwam 15 tahun; yang pertama kali
menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasulullah saw. Sebagai
Hawarinya.
Zaid bin tsabit 13 tahun; penulis wahyu. Dalam 17
malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul saw.
Hafal kitabullah dan ikut serta kodifikasi Al-Quran.
Atab bin Usaid; diangkat oleh Rasul saw. Sebagai
gubernur Mekah pada umur 18 tahun.
Muadz bin Amr bin Jamuah 13 tahun dan Mu’awidz bin
‘Afra 14 tahun; membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang badar.
Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun; orang Arab paling
mulia. Berbai’at untuk mati Rasul saw. Pada perang Uhud dan menjadikan dirinya
tameng.
Muhammad al-Fatih 22 tahun; menaklukkan
Konstantinopel ibukota Byzantium pada saat jenderal agung putus asa.
Abdurrahman an-nashir 21 tahun; pada masanya
Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian
dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.
Muhammad Al-Qosim 17 tahun; menaklukkan India
sebagai seorang jendral agung pada masanya. (Tanjung, Yanti, 2015)
Apakah seorang ibu tidak menginginkan putra dan
putinya menjadi pejuang Islam yang menjadi garda terdepan tentara Islam?
Dalam sebuah hadist “Ketahuilah masing-masing kamu
adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang
dipimpin. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya
dan ia dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin
bagi rumah tangga serta anak suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban
terhadap yang dipimpinnya.”
Nah, berdasarkan hadis diatas, tidak hanya suami
yang dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Seorang istri pun juga dimintai
pertanggungjawabannya sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan manajer rumah
tangga). Dengan apa seorang ibu mendidik anak-anaknya? Apakah dengan Islam atau
dengan sistem kapitalisme, sosialisme? Kapitalisme tegak atas dasar sekularisme
(pemisahan agama dengan kehidupan). Ide ini menjadi akidahnya (asas), menjadi
qaidah fikriyah (kaedah berpikir), dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan
berpikir). Di dalam ide sekularisme mereka mengakui eksistensi agama.
Tetapi menolak membawa agama ke dalam kehidupan
sehari-hari. Ketika berbicara agama, maka hanya ibadah yang mereka maksud.
Mereka menolak penerapan hukum-hukum agama
dalam kehidupan. Padahal, pembuat hukum tertinggi ialah Allah Sang Maha
Pencipta (Al-Khaliq) dan Pengatur (Al-Mudabbir). Allah SWT berfirman : “Hak
membuat hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian
tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
tahu.” (QS. Yusuf 12:40)
Dalam suatu sistem, ketika input baik maka baik
pula outputnya. Dampak dari sekularisme tidak bisa dibiarka secara
berkelanjutan. Mereka ingin memisahkan agama dari kehidupan. Pada faktanya,
ketika sekulerisme diterapkan di suatu Negara hanya kerusakan dalam seluruh
aspek kehidupanlah yang ada. Agar sistem ini tidak menyebar semakin dalam ke
seluruh sendi kehidupan, diperlukan solusi dari setiap masalah-masalah yang
ada, yaitu khilafah ala minhaj an-nubuwah.
Ditayangkan di :
http://www.voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2017/11/14/54341/remaja-zaman-now/#sthash.EUK4h0CT.dpbs







0 comments:
Post a Comment