Jakarta - Kubu koalisi Joko Widodo dan koalisi
Prabowo berebut massa pemilih Islam. Hal ini karena aspirasi umat Islam di
Pilpres 2019 sangat penting bagi kedua kubu di Pilpres 2019. Akibat perebutan
ini, umat Islam bingung, dan terpecah.
Ditetapkannnya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
(MU) Maruf Amin sebagai calon wakil presiden Jokowi, menunjukkan kubu ini ingin
meraih massa pemilih Islam. Begitu juga di kubu Prabowo yang mendapat dukungan
tokoh-tokoh Islam, antara lain dibentuknya ijtima ulama oleh kelompok 212.
Pengamat politik dari Point Indonesia (PI) Karel
Susetyo mengatakan, sejak Pilpres 1999 atau pasca Orde Baru (Orba) berkuasa
maka suara umat Islam selalu diperebutkan oleh berbagai pihak yang bertarung
dalam Pilpres. Apalagi faktanya umat Islam adalah pemilih terbesar dan berada
di pulau Jawa. Oleh karenanya perebutan suara umat Islam yang menjadi agama
mayoritas penduduk Indonesia bukan sesuatu yang baru dalam pesta demokrasi.
“Jadi dalam Pilpres 2019 ya sama saja. Pasti akan
berebut suara pemilih yang sebagian besar umat Islam,” ujar Karel Susetyo
seperti yang dilancir dalam Laman Harian Terbit, pada Minggu (12/8/2018).
Menurut Karel, dalam Pilpres 2019 isu-isu sektarian
kembali akan muncul untuk membangun sentimen menyerang lawan politiknya. Namun
pada prinsipnya memilih karena preferensi agama maka sah-sah saja. Yang penting
para kandidat yang bertarung dalam Pilpres 2019 tidak mempolitisasi agama. Saat
ini legitimasi Islam yang paling kuat ada pada Jokowi karena berpasangan
dengann Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin.
“Sesuai dengan apa yang tergambar daalm
survei-survei maka kisaran kemenangan Jokowi 60-70 persen,” jelas Karel yang
memprediksi kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2019.
Karel menyebut, kemungkinan besar Jokowi akan
menang dalam Pilpres 2019 terbuka lebar. Sehingga bisa menjadi Presiden hingga
2 periode. Namun sepertinya Jokowi dan parpol pendukungnya yakni PDIP akan
dibayangi atas trauma kekalahan Mega – Hasyim di Pilpres 2004. Oleh karenanya
trauma tersebut harus bisa menjadi motivasi kuat untuk membuahkan kemenangan.
Untuk meraih kemenangan maka Jokowi harus bekerja
memenuhi semua janji kampanyenya selama ini sampai sebelum cuti sebagai
presiden nanti.
“Karena publik akan menilai soal pemenuhan janji
kampanyenya. Selain itu Jokowi harus bisa mengefektifkan kerja seluruh mesin
politiknya. Karena pemilihan KH Maruf Amin menyisakan beberapa masalah terhadap
pendukung Mahmud MD dan Ahok,” paparnya.
Umat Islam Cerdas
Sementara itu, Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro
demokrasi (Prodem), Syafti Hidayat mengatakan, saat ini umat Islam cerdas
sehingga tidak akan terpecah dalam Pilpres 2019. Karena umat Islam sudah biasa
menghadapi Pilkada dan Pilpres. Oleh karenanya saat ini umat Islam sudah
menentukan pilihan dalam Pilpres 2019. Saat rezim Jokowi telah gagal
mensejahterakan rakyat sehingga tidak akan dipilih lagi dalam Pilpres 2019.
“Persoalan terbesar kini adalah masalah ekonomi
yang hanya bisa diselesaikan oleh pemimpin baru 2019,” ujar Syafti.
Syafti menegaskan, dalam Pilpres 2019 suara umat
Islam tidak terpecah. Namun dalam Pilpres 2019, hanya terjadi polarisasi dalam
suara umat Islam. Oleh karena polarisasi suara umat Islam hal biasa dalam
politik untuk memperebutkan kekuasaan. “Tidak pecah suara umat Islam. Cuma
terjadi polarisasi saja. Ini soal biasa dalam politik. Agar umat Islam tidak
bingung atau terpolarisasi atas keadaan yang ada maka harus cerdas memilih dan
jangan terbawa emosi,” paparnya.
Terpisah pengamat politik Ray Rangkuti
mengatakan,kedua kubu
berebut simbol. Jokowi lemah dianggap di kanan,
akhirnya ambil ulama. Prabowo lemah di milenial akhirnya ambil Sandiaga Uno,”
jelasnya.
“Jadi simbol-simbol gini, bukan substantif. Bukan
Isu HAM, atau pengangguran, itu soal ke 4-5-6. Isu pertama adalah apakah dekat
milenial? apakah agamanya kuat? dan yang ketiga apakah dekat rakyat?,” pungkas
Ray.
Melupakan Umat
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia
Politikan Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, wajar jika capres mencari
dukungan umat Islam karena agama Islam dipeluk mayoritas penduduk Indonesia.
Tidak heran mereka rela menyambangi ulama, kiai, habaib, tokoh ormas dan
lainnya. Mereka juga ke pondok-pondok pesantren memberikan berbagai bantuan
yang nilainya fantastis.
“Sayangnya ketika mereka memimpin malah melupakan
umat Islam. Karena umat Islam masih menjadi objek, belum menjadi subjek
penentu,” jelasnya. Red/Safari/Anna.J/BBS
Sumber : HanTer
http://lapan6online.com/benarkan-pilpres-2019-rebutan-suara-massa-islam/







0 comments:
Post a Comment