bangsamandiri.com - Kecelakaan di jalan raya yang
menyebabkan korban luka dan meninggal dari waktu ke waktu jumlahnya tak surut.
Berdasarkan data yang disodorkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2009, tak
kurang dari 1,2 juta jiwa melayang di jalan raya akibat kecelakaan kendaraan
bermotor.
Lembaga perkumpulan bangsa sejagat itu juga
menyebut, sekitar 87,2 persen kecelakaan itu terjadi di negara berkembang. Data
yang tak jauh berbeda juga disodorkan Lembaga Keselamatan jalan raya Amerika
Serikat, National Highway Traffic
Safety Administration (NHTSA)
yakni United States Department of Transportation.
Sepanjang
2009, 21.798 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya di Amerika
Serikat. Penyebab terbesar dari kecelakaan bermacam-macam, mulai dari menenggak
minuman beralkohol, cuaca, masalah komponen mobil, hingga menelepon saat
mengemudi.
Lantas
apa saja faktor penyebab kecelakaan terbesar di tanah air dan negara berkembang
lainnya? Sayang, hingga detik ini belum ada satu penelitian khusus tentang
penyebab tersebut. Padahal, jumlah kendaraan bermotor di tanah air saban tahun
terus bertambah dan jumlah kecelakaan pun terus terjadi.
Namun,
seperti yang dilansir situs resmi NHTSA, nhtsa.gov menjelaskan, setidaknya ada
enam penyebab yang paling sering memicu terjadinya kecelakaan. Keenamnya adalah
:
1. Pengemudi Kehilangan Konsentrasi
Faktor
ini menempati urutan pertama, karena hasil penelitian menyebut faktor ini
memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 55 persen.
Pengemudi
tidak fokus ke kondisi jalan saat mereka menelepon atau menerima telepon di
saat mengemudi. Penyebab lainnya, karena pengemudi membaca dokumen, membaca
pesan pendek, melihat kejadian di sekeliling jalan dalam waktu lama, mengatur
peranti audio.
Selain
itu, stres karena masalah pribadi, panik karena ulah pengendara lain, hingga
terburu-buru karena ada persoalan penting yang harus segera diselesaikan juga
menjadi penyebab buyarnya konsentrasi di jalan.
2. Pengemudi Lelah Dan Mengantuk
Penyebab
kedua yang menjadi pemicu terjadinya kecelakaan adalah kelelahan dan mengantuk.
Keduanya memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 45 persen.
Disebutkan,
saraf sensorik dan motorik orang yang sangat lelah dan mengantuk menurun
kepekaannya. Sehingga, selain menyebabkan tidak konsentrasi lelah dan mengantuk
juga menyebabkan tingkat refleks seseorang berkurang.
Kondisi
badan yang kelelahan dan mengantuk memiliki kemiripan dengan orang yang
menenggak minuman beralkohol atau obat-obatan. Perbedaannya, orang yang kelelahan
masih memiliki kesadaran yang sewaktu-waktu masih dikontrol dan distimulasi
hingga kembali ke kesadaran penuh.
3. Pengaruh Pengemudi Minum Alkohol
Dan Obat
Kondisi
mabuk yang diakibatkan oleh minuman beralkohol atau obat-obatan memiliki
tingkat persentase menyebabkan kecelakaan hingga 30 persen.
Menenggak
alkohol atau mengkonsumsi obat-obatan (atau bahkan obat yang direkomendasi
dokter) berpotensi menghilangkan kemampuan kontrol otak. Sehingga selain
kesadaran hilang atau berkurang, kemampuan refleks juga merosot drastis.
Pengemudi
yang mabuk cenderung kehilangan kemampuan memperhitungkan manuver, kepekaan
dalam merasakan kecepatan mobil, hingga ketidakakuratan pandangan.
4. Kecepatan Kendaraan Melebihi
Batas
Faktor
lain yang juga kerap menjadi penyebab kecelakaan adalah pengemudi menggeber
mobil dengan kecepatan yang melebihi standar yang diizinkan di jalan. Pengemudi
akan kesulitan melakukan manuver dengan aman saat kondisi jalan tak
memungkinkan.
Terlebih
bila mobil bermasalah, seperti ban pecah atau satu di antara komponen mengalami
kerusakan. Kendati produsen mobil mengatakan telah melengkapi mobil produksinya
dengan seabrek peranti penunjang keselamatan, jangan pernah berspekulasi.
Pasalnya,
kondisi tersebut berasumsi pada saat jalanan dalam kondisi ideal. Selain itu
kondisi yang tak terduga dan dialami oleh pengemudi juga berbeda saat mobil
pertama kali diuji coba oleh pabrikan.
Faktor
kecepatan ini memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 30 persen.
Faktor kecepatan ini juga termasuk perilaku pengemudi yang agresif dalam
mengemudikan kendaraannya.
Jangan
menggeber mobil dalam kecepatan tinggi dan mengabaikan tanda-tanda atau rambu
lalu lintas.
5. Kondisi Cuaca
Meski
terlihat sepele, namun cuaca hujan deras, angin ribut, berkabut, hingga udara
kering yang menyebabkan jalanan berdebu juga tercatat sebagai penyebab
kecelakaan. Persentasenya mencapai 13 persen.
Guyuran
air hujan selain menyebabkan keterbatasan pandangan juga menjadikan kemampuan
ban untuk mencengkeram lintasan juga berkurang. Terlebih bila kendaraan yang
berada di depan atau belakang tidak memiliki kewaspadaan yang tinggi atau
bermasalah.
Di
negara-negara tropis seperti Indonesia, faktor cuaca seperti hujan memiliki
tingkat potensi tinggi memicu terjadinya kecelakaan.
6. Komponen Kendaraan Tak Beres
Faktor
ini kerap tidak disadari oleh pemilik atau pengguna mobil. Terlebih bila
pemilik atau pengguna mobil tidak memiliki kepekaan untuk mendeteksi ada
tidaknya permasalahan di satu komponen mobil.
Padahal,
faktor ini memiliki persentase menyebabkan kecelakaan hingga 10 – 14 persen.
Beberapa kerusakan komponen yang paling sering terjadi adalah kanvas rem yang
sudah tidak berfungsi maksimal, power steering yang terganjal sehingga kontrol
kemudi tak terkendali dengan baik.
Penyebab lain diantaranya kondisi jalan rusak, belum memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan kurang hati-hati dalam berkendara. Selain
itu ban pecah, sistem kontrol elektronik untuk menjaga kestabilan mobil yang
rusak, hingga kabel sistem kelistrikan yang berpotensi korsleting.
Hasil
penelitian NHTSA juga menunjukkan, selama ini para pemilik atau pengguna mobil
jarang yang memperhatikan kondisi komponen mobil mereka. Sebagian besar di
antara mereka akan membawa kendaraannya saat ada gejala yang benar-benar
dirasakan atau setelah terjadi peristiwa kecelakaan.
Source:
gooto.com - Tempo.co








0 comments:
Post a Comment