bangsamandiri.com – Bila ditanyakan kepada setiap
orangtua, “Hal apa yang paling mereka inginkan dari anak-anaknya?” Jawabannya
tentulah kebahagiaan bagi sang anak. Segala upaya, cucuran keringat, dan setiap
hal yang dilakukan orangtua salah satunya adalah demi mewujudkan kebahagiaan
untuk anak-anaknya. Orangtua memang tak hanya mengharapkan anak-anaknya tumbuh
menjadi pribadi yang pandai, namun, sudah menjadi keinginan terbesar bagi orang
tua untuk dapat melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bahagia.
Lalu, seperti apa cara yang bisa dilakukan orangtua
untuk membuat anaknya bahagia? Apakah dengan memberikan berbagai barang bagus?
Atau, mengikuti setiap permintaan anak? Tentu tidak, kan. Cara yang bisa
dilakukan oleh orangtua untuk membesarkan anaknya menjadi pribadi yang bahagia
adalah dengan menerapkan pola pengasuhan yang benar. Kuncinya terletak pada
gaya parenting orangtua, karena pengaruh lingkungan dimana anak tumbuh dan
berkembang adalah faktor yang paling berperan dalam membentuk kepribadian dan mental
seorang anak.
Pola pengasuhan seperti apa yang perlu diterapkan
orangtua untuk membuat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang bahagia?
1.
Orangtua
harus bisa mengenal anak
Banyak orangtua yang merasa bahwa mereka telah
mengenal anak-anak mereka. Namun, faktanya sebagian besar orang tua hanya telah
“merasa” mengenal anak, bukan “benar-benar” mengenal anak-anak mereka.
Orang tua selalu beralasan melakukan apapun demi
kebaikan dan kebahagiaan anak. Padahal, belum tentu orangtua tahu apa yang
sebenarnya diinginkan anak-anaknya.
cara membuat anak menjadi pribadi yang bahagia
Orangtua seharusnya dapat benar-benar mengenal
anaknya. Mengenal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan anak, mengenal
seperti apa karakter anak, mengetahui dan memahami perasaan anak.
Orangtua juga perlu mengarahkan hal-hal yang bisa
membangkitkan potensi anak dan mendukung aktivitas positif yang membahagiakan
anak, bukan hanya yang membahagiakan orangtua.
Kenali anak sebagai individu unik yang tidak sama
dengan teman atau saudaranya yang lain. Jangan membanding-bandingkan anak
dengan orang lain. Mungkin saja anak Anda memang bukan seorang yang pandai di
bidang matematika, namun, bisa jadi ia pandai dalam hal menggambar. Mungkin
saja anak Anda pemalu dan bukan orang yang ahli dalam hal berbicara di depan
umum, namun, bisa jadi ia sangat kreatif dan memiliki daya imajinasi yang
tinggi.
Kenali benar-benar apa yang menjadi kelebihan anak,
terima dan perbaiki apa yang menjadi kekurangannya dan jangan memaksakan
kehendak kepada anak. Dengan begitu, orangtua sudah mengajarkan kepada anak
bagaimana caranya untuk bisa menikmati hidup dan menjadi pribadi yang bahagia.
2.
Jangan
selalu mengharapkan anak untuk sempurna
Tak ada orang yang sempurna, termasuk anak. Setiap
anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sayangnya, tidak
sedikit orangtua yang tidak menyadari hal tersebut.
Banyak diantara orangtua yang tanpa sadar selalu
mengharapkan anaknya untuk menjadi yang “sempurna”, menjadi yang “terbaik”.
Padahal, menjadi yang terbaik dan sempurna itu tidak menjamin kebahagiaan anak.
Orangtua biasanya terus-menerus menekan anak untuk
mendapatkan hasil yang sempurna. Hasil ujian harus 10. Ikut lomba apapun harus
menang. Setiap semester harus jadi juara kelas. Oke, bila anak Anda bisa
mencapainya.
Namun bagaimana bila anak tidak bisa mencapainya?
Haruskah orangtua terus menekan anak agar bisa mencapai standar sempurna yang
diinginkan orangtua? Jika demikian yang Anda lakukan, maka Anda hanya
membesarkan anak menjadi apa yang Anda mau.
Kebiasaan orangtua yang selalu menginginkan anak
untuk sempurna tidak hanya memberikan tekanan mental bagi anak sehingga anak
menjadi stres, namun orangtua sekaligus juga mengajarkan kepada anak untuk
terbiasa melakukan cara apapun demi bisa mendapatkan apa yang dinamakan yang
“terbaik” dan “sempurna” itu.
Justru yang perlu Anda lakukan adalah mengajarkan
kepada anak untuk bersyukur atas setiap hasil yang telah dicapainya. Bersyukur
untuk setiap prestasi dan proses yang telah dilakukannya. Dengan terbiasa bersyukur,
anak akan menjadi lebih bahagia. Jauh dari perasaan tertekan, menderita, dan
akan lebih positif lagi dalam memandang hidup.
3.
Biarkan
anak berekspresi
Yang dimaksud membiarkan anak berekspresi di sini
bukanlah membiarkan anak melakukan apapun yang mereka sukai. Namun, memberikan
ruang dan kesempatan kepada anak untuk mengeskpresikan apa yang menjadi
keinginan dan cita-citanya. Mengeskpresikan ide-ide kreatifnya, mengekspresikan
suara dan pendapatnya. Hal ini baik untuk semakin mengasah daya kreativitas
anak.
Anak tidak tertekan, lebih bahagia, dan bisa
menikmati pilihannya. Andaikan pun pilihan anak salah, bukan berarti Anda harus
menghakimi anak. Bukankah seseorang untuk bisa menjadi “pandai” dan “lebih
baik” harus melewati sebuah proses? Jatuh, salah, dan gagal adalah bagian dari
proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ada orang yang berpendapat bahwa mendidik anak
layaknya bermain layang-layang. Terkadang harus ditarik, ditahan, dan terkadang
harus sedikit dilepas (diulur) agar bisa lebih tinggi. Bila analoginya
demikian, mendidik anak berarti sebaiknya juga sedikit dilepas (dibiarkan
berekspresi), ada kalanya harus ditahan dan ditarik bila apa yang dilakukan
anak memang tidak baik dan bisa membahayakan anak.
Intinya, anak menjadi lebih pandai, lebih berani,
dan lebih tahu apa yang diinginkannya bila ia dibiarkan untuk berekspresi. Bila
anak sudah tahu apa yang menjadi tujuan dan pilihannya, maka ia akan bisa lebih
menikmati hidupnya dengan bahagia.
4.
Menjaga
kedekatan dan kehangatan hubungan orangtua-anak
Hubungan yang dekat antara anak dan orangtua
merupakan modal yang sangat penting bagi anak untuk bisa menapaki kehidupannya
ke depan nanti. Kedekatan dan kehangatan hubungan orangtua-anak akan
menciptakan kelancaran komunikasi antara orangtua-anak.
Sehingga, saat anak menghadapi problem dan kendala
dalam hidupnya, orangtua tidak berdiri di hadapan anak sebagai “hakim”
melainkan berdiri di dekat anak untuk memberikan support ke anak.
Kedekatan dan kehangatan dengan anak juga akan
menumbuhkan rasa aman dalam diri anak. Perasaan aman dan nyaman tersebut
membuat anak menjadi lebih positif dan lebih bahagia dalam hidup.
5.
Jaga
kesehatan mental Anda dan anak Anda
Menjadi orangtua itu memang tidak mudah. Mendidik
dan membesarkan anak bukanlah perkara yang gampang. Sangat wajar bila terkadang
ada orang tua yang merasa depresi, tertekan karena beban berat dan tanggung
jawab yang dipikulnya sebagai orang tua.
Belum lagi ditambah berbagai problem dalam hidup
seperti tuntutan memenuhi kebutuhan ekonomi, masalah pekerjaan atau masalah
lainnya, yang tak jarang membuat orang tua stres. Bila memang hal tersebut yang
terjadi pada Anda, segera atasi dan jangan dibiarkan berlarut-larut, karena hal
tersebut bisa mengganggu kesehatan mental Anda dan pada akhirnya juga akan
mengganggu kesehatan mental anak Anda.
Orangtua yang depresi biasanya juga tanpa sadar
menerapkan pola didik/parenting yang negatif kepada anaknya. Orangtua yang
stres atau tertekan biasanya juga cenderung akan memperlihatkan contoh-contoh
yang buruk kepada anak.
Hal seperti itu tentu saja akan berpengaruh pula
pada perkembangan mental anak, membuat anak ikut merasa tertekan dan tidak
bahagia.
6.
Memelihara
keharmonisan Ayah dan Ibu sebagai pasangan
Keharmonisan Ayah-Ibu sebagai pasangan juga
berperan penting untuk mewujudkan kebahagiaan anak. Banyak kasus anak tumbuh
menjadi pribadi yang terganggu secara psikologis akibat keretakan hubungan
Ayah-Ibunya.
Bila setiap hari yang disuguhkan kepada anak adalah
pertengkaran dan perselisihan orangtua, tentunya hal itu pulalah yang akan
tertanam dalam diri anak dan menjadi contoh bagi anak untuk cenderung mudah
melakukan pertengkaran dan perselisihan.
Kehangatan dan keharmonisan dalam keluarga tentunya
penting dan bermanfaat bagi perkembangan mental dan psikologis anak.
7.
Ajari
anak tentang kasih sayang
Ajarkan kepada anak tentang kasih sayang dan
bagaimana caranya memberi kasih sayang. Tunjukkan cinta dan kasih sayang kepada
anak Anda setiap hari. Jangan ragu untuk mengucapkan kata-kata sayang kepada
anak Anda. Jangan hanya sekedar merasa sudah mencintai anak.
Namun, pastikan bahwa anak Anda tahu dan merasakan
bahwa dirinya dicintai oleh orangtuanya. Hal ini pastinya akan membuat anak
menjadi pribadi yang bahagia karena merasa dicintai dan diterima.
Menjalin kedekatan dan kehangatan hubungan antara
orangtua-anak juga termasuk salah satu cara orangtua untuk mengajari anak
tentang cinta dan kasih sayang. Dengan mengajari anak cinta dan kasih sayang,
Anda juga telah mengajarkan kepada anak bagaimana caranya memberi kasih sayang
untuk orang lain (sesama) dan untuk dirinya sendiri.
Secara psikologis, mencintai merupakan hal yang
dapat membuat kita merasa bahagia. Karena saat kita mencintai, tubuh akan
melepaskan oksitosin, hormon yang bisa membuat kita merasa nyaman, tenang, dan
bahagia.
Anak juga perlu dibiasakan untuk mencintai dirinya
sendiri. Tentu yang dimaksud di sini bukanlah egosentris (hanya perpusat pada
dirinya sendiri) atau mencintai diri sendiri secara berlebihan. Melainkan
adalah menghargai dan menghormati dirinya sendiri.
Anak yang juga mencintai dirinya sendiri tidak akan
mudah depresi saat mengalami suatu masalah. Ia juga tidak cenderung menyalahkan
diri sendiri atau bahkan melakukan tindakan yang cukup ektrim, sampai bunuh
diri atau narkoba misalnya, saat menghadapi masalah.
8.
Banyak
bermain dengan anak
Dunia anak adalah dunia bermain. Dengan bermain
anak akan menjadi lebih ceria dan bahagia. Dengan bermain pun anak akan menjadi
pintar dan kreatif karena ia bisa belajar banyak hal dari aktivitasnya saat
bermain.
Permainan yang dibutuhkan anak bukan hanya aneka
permainan atau barang-barang yang katanya edukatif untuk anak. Anak-anak juga
butuh Anda, yaitu orangtuanya sebagai hal favorit yang paling disukainya.
Dengan banyak bermain dengan anak, Anda akan
menciptakan anak yang bermental sehat, ceria, bahagia, jauh dari stres, dan
tentunya lebih cerdas.
Source: informasitips.com








0 comments:
Post a Comment