Membuang Racun Di Dalam Tubuh Dengan Puasa


bangsamandiri.com - Sudah lebih 10 tahun Andang Widhawari Gunawan menerapkan pola makan food combining. Makan diatur, sarapan tidak lagi dengan menu yang berat-berat.

''Food combining itu cara mengatur pola makan yang benar, dalam arti sesuai dengan cara kerja tubuh,'' jelas Andang.

Maka, menu keseharian Andang lebih banyak buah dan sayur-sayuran. Sumber protein ia pilih telur atau kacang-kacangan, tahu, tempe.

''Mungkin sebulan sekali saya masih makan daging,'' ujarnya.

Untuk buah, ia memilih yang kandungan airnya tinggi, menunjukkan buah yang baik.

''Kalau kita pegang atau kupas airnya keluar, misalnya apel, mangga, jeruk, semangka, melon, pir, nanas,'' ujar dia.

Tapi ibu dua anak (Kara dan Abhi) ini menganjurkan mengonsumsi buah lokal saja.

''Karena makin dekat ke tempat kita, itu makin baik. Kalau sudah berhari-hari, berbulan-bulan kayak buah impor, bayangin aja. Mungkin buahnya enak, tapi  kandungan gizinya tidak seberapa,'' jelasnya.

Andang menerapkan food combining, bermula ketika Maxi Gunawan, suaminya, menderita sakit lever. Perut suaminya sudah bengkak, mukanya juga sudah bengkak. Di tengah proses pengobatan, Andang mencari beragam referensi. Wanita kelahiran 8 September 1955 ini akhirnya menemukan buku yang dianggapnya menarik. Ia mempelajarinya, meramunya untuk diberikan kepada suami. Hasilnya menyentakkan.

“Ternyata cuma 1,5 bulan, berat badannya turun, mukanya segar,'' kata Andang mengenang.

Dia lalu memutuskan memperdalam lewat lembaga pendidikan di Australia. Kini, selain menjadi pemimpin redaksi majalah hidup sehat alami, Nirmala, ia juga menjadi
konsultan gizi dan kesehatan alami. Rabu (20/09/2018) lalu, perempuan yang lebih akrab disapa Andang Gunawan ini menerima Burhanuddin Bella dari Republika bersama fotografer M Syakir untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya:

Anda hanya mengonsumsi jus?

Oh, nggak. Ini juga salah mengerti. Food combining itu bukan cuma ngejus, bukan Cuma makan buah dan sayur. Tetap pola makan empat sehat harus kita konsumsi. Kebutuhan pokok itu harus kita penuhi. Cuma cara masuknya ke tubuh harus sesuai dengan cara kerja tubuh. Jadi tidak benar juga kalau memang ada sebagian orang menangkapnya food combining hanya jus. Itu tidak benar, tidak begitu. Bahwa salah satu menunya itu mau dibikin jus, ya silakan aja. Tapi sebenarnya, pokoknya adalah yang harus lebih banyak makan sayur sama buah. Bukan hanya makan sayur sama buah aja, tetap kita perlu protein, lemak juga tetap perlu. Jadi tetap bisa makan enak, tetap bisa makan sampai kenyang.

Jadi tetap makan nasi dan segala macam?

Tetap. Cuma diatur waktunya. Misalnya kebiasaan kita selama ini pagi-pagi sarapan berat, itu tidak ada lagi. Karena memang fungsi tubuh kita di pagi hari tidak untuk mencerna makanan berat. Pagi-pagi itu tubuh kita lebih intens untuk pembuangan, sehingga kalau makan yang berat-berat, kita mengganggu proses pembuangan.

Andang menyarankan makan berat dilakukan mulai siang hari, dari pukul 12.00 sampai 20.00. Karena pada waktu itu, perangkat-perangkat tubuh siap mencerna makanan padat.

''Makan paling telat jam delapan malam. Sebetulnya makan malam yang bagus, kayak orang dulu, jam enam sore. Jadi jam delapan malam sudah selesai, jam sembilan sudah bisa tidur. Itu bagus. Subuh bisa bangun, segar kan,'' saran lulusan dari Associate Diploma of Applied Science (Nutrition) QINS Institute of Natural Science, Queensland, Australia, pada 2000.

Food combining menurut Andang bukanlah diet. ''Diet pola makan dalam arti mengurangi jumlah makanan untuk tujuan mengurangi berat badan, itu sama sekali bukan food combining,'' tegas penerima certified detoxification specialis dari International School of Detoxification, Port Charlotte, Florida, Amerika, pada 2004.

Andang menyarankan agar tak makan di tengah malam (kecuali untuk kepentingan puasa). Makan tengah malam akan mengganggu proses penyerapan dan asimilasinya.

''Sehingga nanti dari hari ke hari, kita tidak sadar, kita akan semakin kekurangan gizi kalau pola makan seperti itu. Bukan manfaat yang kita dapat, tapi suatu saat mungkin musibah, penyakit,'' ujar Andang.

Apa yang Anda makan di waktu malam?

Ya, seringan mungkin kalau bisa. Karbohidrat masih nggak apa-apa, tapi kayak daging-daging, lemak-lemak, jangan, karena lebih lama dicernanya. Kenapa kita sebaiknya makan yang lebih mudah dicerna, karena dua jam sebelum tidur itu kan makanan sudah harus turun. Kalau kita misalnya makan jam 10, jam 11 sudah tidur, mungkin waktu umur kita masih muda tidak terlalu mengganggu, tapi makin lama itu akan merusak. Kita tidak sadar makanan itu masih di dalam lambung. Makanan itu harus ke bawah dulu. Kalau sudah di usus, keluar dari lambung, tidak apa-apa, dia akan bergerak sendiri. Kan nanti usus bergerak terus. Tapi kalau kita makan kayak daging, itu empat jam di lambung, belum dua jam kita sudah tidur, kan posisi makanan jadi telentang. Jadi akan mengganggu karena dia harus bergerak turun. Itu harus dibantu dengan posisi yang benar.

Sejak kapan Anda melakukan food combining?

Dari tahun 1994. Waktu suami saya sakit 1993. Saya ketemu pola makan ini juga tidak sengaja. Baca-baca buku, lalu saya modifikasi ke menu yang kita bisa makan. Itu kan menunya orang Amerika yang kadang-kadang tidak ada rasa. Dia bikin steak daging sama sayuran, saya bikin apalah. Daging yang dimasak apa pakai saus tiram, misalnya, terus pakai sayuran yang banyak. Ternyata saya perhatikan, keluhan suami saya juga makin hari makin berkurang, dia bisa makan kenyang.

Waktu itu hanya untuk suami?

Ya. Sesudah itu mulai ada teman yang memperhatikan. Akhirnya teman nanya, coba deh/diikuti. Ternyata berhasil. Beberapa teman juga berhasil. Akhirnya mereka mengajak, kalau ada kumpul-kumpul kamu bicara deh. Sampai suatu hari, ngumpul-ngumpul itu saya tidak tahu kalau ada wartawan, dirilis ke koran, dibaca salah satu dokter. Pengen marah sih waktu itu kalau dengar omongannya. Sekarang, justru saya menganggap itu satu hikmah. Justru omongan itu saya terpicu mengambil sekolah gizi.

Tapi, Anda juga menerapkan untuk diri sendiri?

Mau nggak mau di-ikutin. Masak saya mau makan lain? Tapi manfaat yang saya dapat, saya melihat kulit saya makin bagus. Jernih, bersih. Saya ikut langsing, yang dulu kayak-nya mau nurunin dua kilogram aja susah. Tidak kurus, tapi turun seperti yang saya mau. Perut juga tidak buncit. Terutama yang saya senang, kulit. Karena saya dulu sangat sensitif dengan kulit, dulu pola makan saya, saya suka manis, tidak
pernah makan sayur, tidak makan buah. Jadi kulit saya tidak sehat, selalu kusam.

Saat mengawali pola makan ini, apakah terjadi penolakan dalam tubuh?

Mungkin karena saya sibuk dengan mengatur menu segala macam, saya tidak terlalu
rasakan. Mungkin kalau saya lebih banyak diam, itu lebih terasa. Itu dialami oleh beberapa pasien saya. Mungkin dia tidak melalui saat-saat seperti saya. Saya waktu itu konsentrasi ke suami, jadi tidak terlalu mikirin apa yang saya rasain. Saya tidak ingat, waktu pertama kali ikut ini saya mengalami apa. Kalau suami saya, dia baru bilang, agak uring-uringan waktu berapa hari pertama. Tapi makin lama, merasa badannya enak, sekarang tidak ada yang komplain. Pagi-pagi minum jus aja. Jadi kita
sudah tidak ada pagi-pagi duduk makan roti dengan slei, telur goreng. Kita lakukan itu cuma liburan, tidak ada aktivitas. Minum jus tetap wajib, tapi kita tidak ada lagi makan berat lagi kayak dulu, nasi goreng.

Pengetahuan awal itu dari mana?

Itu juga tidak sengaja. Saya beli semua buku diet, karena tidak mengerti. Lalu saya ada satu buku yang menurut saya sama sekali tidak menarik. Bukunya tebal, kayak novel, tulisannya kecil-kecil, jadi saya tidak pernah baca betul-betul. Suatu kali, saya bolak-balik, ada tulisan yang menarik. Saya baca semuanya.

Orang itu (dalam buku tersebut) cerita pengalaman hidupnya sampai menemukan pola makan ini. Bahwa dia juga tadinya bukan ahli gizi, dia sampai sekolah. Berat badannya turun 25 kg, dari 100 kg. Dia melihat penderitaan ayahnya waktu  meninggal, kanker usus. Saya ikuti pola makan yang dia masukkan. Jadi sebenarnya, waktu itu saya ingin menurunkan berat badan suami saya, bukan ke levernya. Saya pikir juga, kalau berat badannya turun lemaknya juga hilang. Ternyata, cuma 1,5 bulan, mukanya... wah, segar banget.

Untuk bisa sekolah giz di Australia, Andang harus rajin browsing internet mencari sekolah gizi. Ia mendapatkan QINS Institute of Natural Science, di Australia. ''Saya tak mau ngambil ke arah medis,'' kata dia mengenai alasan memilih institut itu untukbelajar cara mengobati penyakit dengan cara diet.

Tapi di sekolah itu, dia tidak mendapat pelajaran food combining. Melainkan pelajaran mengenai cara alami tubuh bekerja, mengenai proses makanan dalam tubuh.

''Saya ambil jarak jauh karena saya tidak mungkin meninggalkan keluarga. Tapi ujian
sama praktikum di sana,'' jelas doktor naturopatik lulusan tahun 2002 dari Shouthern
College of Medicine, Waldron, Arkansas, Amerika itu.

Dengan melakukan food combining Andang telah merasakan terjadinya proses pengeluaran racun dari dalam tubuh (detoksivikasi). Kuncinya, kata dia, karena banyak makan buah dan sayur.

''Itu kan kaya dengan unsur-unsur yang sifatnya mendetoks,'' ujar dia.

Karena itu, ia memantang makanan yang diproses berlebihan.

''Makanan instan itu pantangan nomor satu. Karena tidak ada gizi,'' kata dia.

Sejak menerapkan ini, Anda pernah sakit?

Alhamdulillah, tidak. Flu aja nggak pernah. Paling kalau misalnya saya agak kecapaian, kurang tidur, terus makannya mungkin agak salah sedikit, saya suka batuk-batuk. Tapi saya hampir tidak pernah langganan dokter. Paling nanya, tapi  kalau di-kasih obat tidak bakal saya ambil. Jadi saya kalau nanya ke dokter, diskusi aja. Begitu saya tahu, saya cari terapinya melalui makanan.

Jadi Anda tidak pernah minum obat?

Hampir tidak pernah. Vitamin minum, kalau saya capek, misalnya saat agak padat kerjaan.

Sebelumnya, bagaimana?

Dulu saya suka kalau bangun tidur rasanya tidak enak, capek. Badan sakit-sakit, kayak orang rematik. Waktu kecil, saya alergi, kadang-kadang suka tiba-tiba demam tanpa sebab. Batuk pilek juga dulu sering.

Anda kan tahu ilmunya. Bagaimana meyakinkan keluarga di rumah untuk mau menerapkan pola makan seperti ini?

Mungkin awalnya, ya. Tapi dengan jalannya waktu, mereka tidak ada komplain.

Awalnya tidak ada yang keberatan?

Oh, keberatan. Anak saya nangis, cuma nggak berani ngomong. Saya orangnya termasuk yang tega kalau tahu itu baik. Banyak juga ibu-ibu tidak tega. Saya selalu bilang, kalau ibu sayang sama anak, ibu harus tega. Mikir nggak kalau ada anak yang sudah obesitas. Terus saya ceritain, sekarang ada organisasi anak-anak yang kena diabetes di bawah 14 tahun. Saya bilang, coba bayangin kalau itu anak ibu, umur 10 tahun suntik sendiri insulin ke perutnya. Saya lebih nangis lihat anak saya begitu,
daripada cuma di-kasih beras merah.

Berapa lama anak-anak Anda beradaptasi?

Setelah sebulan sudah mulai biasa. Jadi menu di rumah banyak tahu tempe, sayur-sayuran. Lalap sudah pasti ada. Nasi merah. Kita tidak pernah berlebihan di meja makan.

Mungkin nggak dengan puasa ini Anda menerapkan food combining?

Bisa. kenapa nggak. Justru puasa dengan pola food combining, badan saya lebih kuat, lebih fresh. Tiga hari pertama, ya, itu kan badan kita penyesuaian diri. Mulai hari
keempat dan selanjutnya, badan saya makin energik. Kulit makin bagus.

Mengapa?

Karena sehat. Badan kita detoks terus. Dengan mendetoks itu, makanan yang masuk jadi lebih nyampe masuk ke pembuluh darah. Darah kita juga jadi normal, tidak kental. Kulit-kulit tua juga dia lepas, kulit jadi segar, badan lebih ramping.

Tapi tetap mengatur pola makan?

Ya, tetap sesuai food combining. Saya cuma atur, misalnya, kalau sarapan kita biasanya buah, ini sahurnya saya hanya makan buah. Mungkin beberapa orang bertanya, kan kita 12 jam tidak makan, bagaimana cuma makan buah? Jalani dulu deh. Orang tidak akan mati dengan cara puasa. Memang, otomatis kalau puasa kita akan lemas, karena begitu kalori dikurangi, tubuh kita akan menurunkan suhunya, akan menurunkan tensinya, pasti kita lebih lemas.

Sementara, waktu puasa itu bukan cuma aspek manahan diri dari makan dan minumnya yang penting. Banyak orang tidak mengerti bahwa pada saat kita puasa terjadi proses detoksifikasi besar-besaran. Proses itu memerlukan energi yang luar biasa besarnya.

Bagaimana Anda berbuka puasa dengan model food combining?

Food combining kan cenderung menu makanan lebih sederhana. Sehari-hari aja sederhana. Kalau itu diterapkan ke puasa, ya cocok. Badan kita tidak akan terpenuhi
gizinya dengan makan segala macam makanan. Misalnya habis buka makan daging, gula, nasi. Habis itu makan kolak. Jangan pikir kita akan dapat zat gizi? Yang ada, bisa
gulanya naik, kolesterolnya naik.

Berbuka puasa dengan apa?

Yang penting ada proteinnya. Tidak perlu harus dari binatang. Harus ada sumber karbohidratnya dari sayuran dan buah. Vitamin dan mineral. Kalau mau nasi, masih boleh. Kalau orang nggak bisa terlalu food combining, okelah, mau nasi campur dengan lauk, tapi sayuran di-banyakin. Makan buah yang banyak. Karena waktu puasa, badan kita cenderung dehidrasi. Tapi, kalau kita banyak mengonsumsi buah-buahan, dehidrasinya bisa dikurangi.

Bagaimana perasaan Anda melihat orang-orang yang selalu `mengamuk' kalau makan?

Kasihan. Saya cuma bilang kasihan, mau apa lagi. Ngeri. Kadang-kadang orang seperti itu sudah tidak bisa di-bilangin. Nanti kalau di-bilangin malah marah.
By Andang W Gunawan
sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=265788&kat_id=58
Share:

0 comments:

Post a Comment

Terkini

500 Sedulur Sikep dari 6 Kabupaten di Jateng-Jatim Gelar Rembug Samin di Blora

BLORA - Sebanyak 500 orang Sedulur Sikep atau para pengikut ajaran Samin Surosentiko, dari 6(enam) Kabupaten yakni Blora, Kudus,...

Total Pageviews

Blog Archive

Hubungi Kami

foxyform

Labels