bangsamandiri.com - Tokek termasuk kategori
kadal yang tergolong suku Gekkonidae. Hewan itu bisa ditemukan di daerah-daerah
bersuhu hangat di seluruh dunia.
Kadal yang satu ini cukup unik jika dibandingkan
dengan kadal-kadal lainnya dalam keluarga yang sama. Keunikan terutama terletak pada suaranya. Tok… kek… begitu suara
yang kerap dikeluarkan tokek ketika berinteraksi dengan tokek-tokek lainnya.
Itulah sebabnya hewan itu dipanggil tokek, téko
atau tekék (bahasa Jawa), dan tokék (bahasa Sunda).
Di dunia, diperkirakan ada sekitar dua ribu spesies
tokek. Hewan itu tersebar luas, mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh,
Myanmar, Tiongkok selatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan
pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Flores,
Timor, Aru, hingga Kepulauan Filipina.
Semua tokek, termasuk kadal suku Eublepharinae,
tidak memunyai kelopak mata dan membran transparan.
Tokek membersihkan kelopak mata dan membran
transparannya dengan cara menjilat. Beberapa spesies akan mengeluarkan bau busuk
dan kotoran kepada penyerangnya sebagai bentuk pertahanan diri.
Banyak pula spesies yang akan memutuskan ekor untuk
melindungi diri. Proses itu disebut autotomi. Sebagian besar spesies tokek
dikenal ahli memanjat permukaan halus dan vertikal, yang dibantu oleh tapak
kaki mereka yang khusus.
Karena itulah hewan-hewan itu banyak ditemukan di
dinding-dinding rumah dan tidak dianggap sebagai pengganggu karena kebiasaan
mereka memakan serangga, seperti nyamuk.
Tokek Delcourt diketahui sebagai tokek yang tubuhnya
berukuran paling besar. Hal itu diketahui dari sebuah spesimen yang ditemukan
di dasar museum Marseille, Prancis. Ukuran tubuh tokek yang berasal dari
Selandia Baru itu mencapai 60 sentimeter. Kini, tokek itu sudah punah.
Tokek dengan ukuran tubuh terkecil berasal dari
jenis Jaragua sphaero. Panjang tubuhnya hanya sekitar 16 milimeter. Hewan itu
ditemukan pada 2001 di sebuah pulau kecil di Republik Dominika.
Tokek yang paling mudah dan sering kita temukan
adalah jenis tokek rumah. Hewan itu memangsa berbagai serangga, cecak, tikus
kecil, dan mungkin juga burung kecil.
Seperti cecak, tokek aktif berburu terutama pada
malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar mangsanya.
Pada siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang
kayu, lubang batu, atau di sela-sela atap rumah.
Tokek melekatkan telurnya yang biasanya sepasang
dan saling berlekatan di celah-celah lubang pohon, retakan batu, di belakang
almari, dan di bawah atap rumah.
Tempat bertelur itu kerap digunakan pula oleh
beberapa tokek secara bersama-sama. Telur menetas setelah lebih dari dua bulan.
Tokek mempunyai variasi warna dan corak yang
beraneka ragam. Beberapa hewan bercorak lembut dan terlihat kenyal, sedangkan yang
lain berwarna mencolok.
Beberapa spesies juga bisa mengganti warna untuk
membaur dengan lingkungan atau bergantung pada temperatur udara.
Uniknya lagi,
beberapa spesies bisa bereproduksi tanpa pejantan.
Meski bukan termasuk hewan buas, tokek tetap harus
diwaspadai karena apabila dipegang, tokek otomatis akan membuka mulut, siap
menggigit penangkapnya.
Gigitannya sangat kuat, otot-otot rahangnya seakan
mengunci sehingga muncul pemeo bahwa gigitan tokek tidak akan dapat lepas
kecuali jika ada petir menyambar.
Ada cara yang mudah untuk menipu tokek agar hewan
itu tidak menggigit saat ditangkap.
Letakkan sesuatu yang agak lunak di mulutnya yang
terbuka, seperti sepotong ranting atau perca kain yang dilipat-lipat yang tidak
mudah putus.
Tokek akan menggigitnya dengan sekuat tenaga
sehingga si penangkap aman untuk mengamati, memeriksa, dan mengukur hewan itu.
Tokek tidak akan melepaskan barang itu selama ia
masih dipegang orang; namun manakala dibebaskan, tokek akan segera melepaskan
benda yang digigitnya itu dan berlari meninggalkannya. (not/L-2)
Source:
koran jakarta.com - maedatokek.blog








0 comments:
Post a Comment