bangsamandiri.com - Dulu, buah ceplukan atau
ciplukan (baca: ciplu’an), hanya dibiarkan saja tumbuh bagai semak bahkan
dicabuti seperti tanaman hama. Di Indonesia ceplukan ini bisa dijumpai di
banyak daerah. Tanaman ini tumbuh liar di lahan kosong, pekarangan rumah, atau
tempat lain yang tanahnya tidak becek, baik di dataran rendah maupun tinggi.
Namun kini mulai diburu karana khasiatnya, jadi tak
berlebihan karena harganya selangit. Di Brunei sebijinya bisa dihargai
Rp10.000, sementara di salah satu
mall di kota besar seperti Jakarta sekilonya mencapai Rp500 ribu.
Ciri Fisik
Secara Umum
Sebagai tanaman menahun dari suku terung-terungan
Solanaceae ini tumbuh tegak, bercabang cukup banyak, yang berambut pendek.
Kalau tumbuhnya terlalu subur, sering cabangnya tidak mampu menahan beban daun
dan buahnya yang bergelantungan banyak sekali, sampai mudah patah.
Bunganya yang muncul di “ketiak daun” berwarna
putih kekuning-kuningan. Dari bunga ini kemudian tumbuh buah yang bentuknya
mirip lentera, menggantung dengan warna hijau muda. Apa yang tampak dari luar
itu sebenarnya hanya kulit buah yang agak transparan.
Di dalamnya mula-mula masih berongga, tapi kemudian
terisi oleh bulatan buah yang sebenarnya, berupa berry (buah buni). Buah dalam
kulit ini bisa dimakan, kalau kulitnya sudah menguning layu.
Mula-mula terasa agak getir, tapi kalau memang
sudah masak akan terasa manis agak keasam-asaman. Enak juga, tapi kalau dimakan
terlalu banyak, bisa menyebabkan orang yang bersangkutan mabuk.
Penyelamat Prajurit
Romawi
Dalam buku Plantes Medicinalis karangan dua pakar
botani asal Prancis, Volak dan Jiri Stoduca, mengisahkan bahwa Cieplukan sudah
dikenal oleh orang Romawi sejak zaman kejayaan mereka ketika menjajah
bangsa-bangsa Timur.
Dalam pertempuran Romawi vs. Kerajaan Iran
(Roman–Persian Wars) berlokasi di Iran Selatan, banyak prajurit dari pihak
Romawi yang menderita luka parah karena senjata tajam.
Untuk mengobati luka itu, mereka memakai tanaman
obat tradisional yang terdapat di sekitar daerah pertempuran. Salah satu di
antaranya ialah ceplukan itu, yang ternyata mujarab sekali.
Daunnya setelah dilumatkan ditempelkan pada luka
para prajurit, dan orang yang bersangkutan juga memakan buahnya. Apa yang
terjadi? Lukanya cepat sembuh!
Mereka begitu kagum akan kehebatan khasiat tanaman
itu, sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai tumbuhan physalis yang berarti
“penyelamat”.
Walau akhirnya pasukan Romawi kalah oleh Persia,
namun kata physalis itu kemudian sempat dijadikan kata sandi bagi
pertempuran-pertempuran mereka berikutnya melawan Persia, karena pertempuran
ini berlangsung berkali-kali selama bertahun-tahun.
Bahkan sampai sekarang, tanaman ini masih
menyandang nama dari julukan yang diberikan pasukan Romawi, Ciplukan masuk ke
marga tanaman Physalis.
Lalu sejumlah tanaman dan buahnya dibawa pulang ke
Roma, sampai kemudian menjadi tanaman obat terkenal di seluruh dunia pada zaman
itu.
Berdasarkan hasil analisis berabad-abad kemudian,
ternyata buah tanaman itu mengandung vitamin C yang relatif tinggi. Lebih
tinggi daripada buah anggur.
Diduga, itulah biang keladi penyebab daya
penyembuhan luka yang begitu besar, seperti yang dialami para prajurit Romawi
di pertempuran Iran pada masa silam. Selain itu terdapat kandungan asam sitrat
dan fisalin dalam buahnya, juga terdapat pula alkaloid, asam malat, tanin,
kriptoxantin dan gula buah.
Khasiat dan
Manfaat Ceplukan
Ceplukan dapat dimanfaatkan sebagai:
·
Anti-hiperglikemi
·
Anti-bakteri
·
Anti-virus
·
Imunostimulan dan imunosupresan (imunomodulator)
·
Anti-inflamasi
·
Anti-oksidan
·
Analgesik, dan sitotoksik
·
Sebagai peluruh air seni (diuretic)
·
Menetralkan racun
·
Meredakan batuk
·
Mengaktifkan fungsi kelenjar-kelenjar tubuh, dan
·
Anti-tumor
Sementara itu, khasiat tanaman herbal ceplukan sebagai
obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti:
a.
Diabetes Mellitus.
Ambil pohon ceplukan yang sudah berbuah cabut sampai akarnya, cuci bersih,
layukan, setelah layu rebus dengan 3 gelas air hingga airnya tinggal 1 gelas,
saring dan diminum 1 x sehari.
b.
Sakit Paru-Paru,
Batuk Rejan (pertusis), bronchitis (radang saluran napas), gondongan
(paroritis), pembengkakan buah pelir (orchitis). Ambillah pohon ceplukan
lengkap dari pohon, buah, daun, batang dan akarnya, cuci bersih, rebus dengan 3
– 5 gelas air hingga mendidih, saring, minum 3 x sehari 1 gelas setiap kali
minum.
c.
Ayan.
Ambil 8 – 10 buitr buah ciplukan yang sudah masak. Dimakan setiap hari secara
rutin.
d.
Luka borok.
Ambil 1 genggam daun ciplukan tambah 2 sdm air kapur sirih, tumbuk sampai
halus, kemudian tempelkan pada bagian yang sakit.
e.
Bisul.
Ambil daun ceplukan sebanyak 1/2 genggam dicuci bersih lalu digiling halus.
Tempelkan pada bisul, lalu dibalut. Diganti 2 kali sehari.
f.
Influenza
dan Sakit Tenggorokan. Tumbuhan ceplukan (semua bagian) yang sudah
dipotong-potong seukuran 3-4 cm dijemur, lalu dibungkus agar tidak lembab lagi.
Kemudian ambil kira-kira sebanyak 9-15 gram direbus, airnya diminum. Lakukan
sebanyak 3 kali sehari, atau sesuai kebutuhan dan atau petunjuk resep.
Tanaman Yang
Dibawa Para Kolonial
Tenaman semusim yang tingginya hanya 10-80 cm ini
bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika tropika. la
didatangkan oleh orang Spanyol pada zaman penjajahan abad-17, ketika orang VOC
masih merajalela bersaing dengan orang Spanyol dan Portugis untuk menjajah
daerah kepulauan Nusantara.
Diduga yang berkenalan pertama kali dengan tanaman
bawaan ini ialah orang Maluku, yang menyebutnya daun Boba, dan Minahasa yang
menyebutnya Leietokan, karena merekalah yang pertama kali dilanda penjajah
Spanyol dari Filipina.
Dari Maluku, ada yang kemudian mengenalkannya ke
Jakarta (dikenal sebagai cecenet), Jepara (sebagai ceplukan), Madura (sebagai
nyor-nyoran). Bali (keceplokan atau ciciplukan) dan Lombok (dededes). Dari Jakarta
baru diperkenalkan ke Sumatra Timur (sebagai leletop).
Jenis yang mula-mula datang ialah Physalis angulata
dan Physalis minima, yang kemudian tumbuh merajalela sebagai gulma di ladang
kering, kebun buah-buahan, diantara semak belukar, dan tepi jalan. Bersama
dengan itu dimasukkan pula sebagai tanaman hias Physalis peruviana dari daerah
pegunungan Peru.
Tiga Spesies Ciplukan
Di Indonesia
Tamanam Ciplukan ini termasuk tanaman keluarga atau
family Solanaceae, yaitu keluarga terong-terongan, adalah salah satu suku
tumbuhan berbunga. Suku ini memiliki nilai ekonomi cukup tinggi bagi
kepentingan manusia.
Beberapa anggota family Solanaceae, seperti
kentang, tomat, terong, paprika, berbagai cabai termasuk ciplukan ini, menjadi
bagian utama bahan pangan manusia di berbagai belahan dunia. Khusus Ciplukan,
di Indonesia terdapat tiga spesies yang tumbuh akibat kolonialisme pada masa
lalu, yaitu:
v
Physalis Angulata
Berumur
satu tahun, tegak, tinggi bisa sampai 1 meter. Batang berusuk bersegi tajam dan
berongga. Daun berbentuk bundar telur memanjang berujung runcing.
Jenis
ini sangat mudah beradaptasi di dataran rendah dan tumbuh merajalela sebagai
gulma di ladang dan sawah yang kering, termasuk di kebun buah-buahan, diantara
semak belukar, hingga di tepi jalan.
v
Physalis Minima
Lebih
rendah, tegak, tinggi tak sampai 1 meter, berumur satu tahun. Batang berusuk
bersegi tajam dan berongga.
Memiliki
rambut-rambut kecil yang panjang pada bagian-bagian batang dan daun yang
berwarna hijau, sementara pada angulata berambut pendek atau gundul, terdapat
tanda V di bawah noda pada leher mahkota tidak begitu jelas.
Walau
juga ada spesies lainnya namun jenis ini paling banyak di Pulau Jawa. Mirip
seperti Physalis angulata, jenis Physalis minima ini sangat mudah beradaptasi
dan tumbuh merajalela sebagai gulma di ladang kering, kebun buah-buahan,
diantara semak belukar, dan tepi jalan.
v
Physalis Peruviana
Ciplukan
ini berasal dari Peru, Amerika Tengah. Berbeda dengan jenis angulata dan
minima, ceplukan Peru ini berupa tanaman menahun yang bisa hidup lebih dari
satu musim.
Physais
peruviana kemudian ada juga yang dibawa oleh orang Belanda VOC ke Eropa, tapi
tidak diakui sebagai ceplukan asli Peru, melainkan kaapse kruisbes (atau cape
goosberry).
Physais
peruviana mudah dibedakan dari jenis yang lain karena jika matang berwarna
oranye, bunganya mencolok sekali dan lebih besar, dengan bintik-bintik cokelat
tua.
Karena
besarnya inilah ia di daerah Parahyangan disebut cecenet badak, dan cecenet
gunung (karena hanya mau tumbuh di pegunungan). Oleh orang Belanda pada zaman
dulu, buah itu selain dimakan segar juga dijadikan selai yang enak untuk
mengisi roti bakar.
Mereka mengira bahwa tanaman Ciplukan ini hidup
asli di wilayah Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan) di ujung selatan benua
Afrika.
Karena disana mereka bermukim cukup lama, sebagai
tempat mendirikan benteng persinggahan dan pelabuhan peristirahatan untuk
mengisi bahan makanan dan air tawar, guna perjalanan berikutnya. Sampai
sekarang jenis peruviana ini masih terkenal sebagai cape gooseberry.
Dari bentuknya yang seerti lentera, tumbuhan
Ciplukan dari spesies Physalis alkekengi yang ada di Cina Tiongkok juga dikenal
dengan nama Chinese Lantern Plants (tanaman lentera Cina) dan berwarna merah
atau jingga. Dengan nama yang banyak ini, buah asam manis itu kini tak hanya
jadi favorit orang Amerika, namun juga di banyak negara.
Tapi Amerika sendiri kini mampu menghasilkannya
sebagai tanamah hortikultura rakyat di negeri mereka sendiri. Lalu, bagaimana
dengan Indonesia?
Pustaka:
§
Food.ndtv.com,
9 Marvelous Health Benefits of Cape Gooseberries (Rasbharies)
§
Uniquefacts.net,
The Unbelievable Health Benefits Of Cape Gooseberries You Haven’t Known Yet All
This Time
§ Wikipedia, Physalis angulata,
Physalis_minima, Physalis peruviana, Solanaceae, Physalis alkekengi,.
Source:
indocropcircles.word








0 comments:
Post a Comment