bangsamandiri.com
- Sayuran dan buah-buahan di Indonesia banyak sekali macam dan jumlahnya. Namun
demikian, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum memiliki kebiasaan untuk
mengonsumsi sayuran dan buah-buahan. Padahal, setiap hari tubuh membutuhkan zat
gizi mikro yang terdapat di dalam sayuran dan buah-buahan.
Secara umum sayuran dan buah-buahan merupakan
sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin dan
mineral yang terkandung dalam sayuran dan buah-buahan berperan untuk membantu
proses-proses metabolisme di dalam tubuh, sedangkan antioksidan mampu menangkal
senyawa-senyawa hasil oksidasi, radikal bebas, yang mampu menurunkan kondisi
kesehatan tubuh.
Sayuran hijau maupun berwarna selain sebagai sumber
vitamin, mineral juga sebagai sumber serat dan senyawa bioaktif yang tergolong
sebagai antioksidan. Sayuran berwarna seperti bayam merah, kobis ungu, terong
ungu, wortel, tomat juga merupakan sumber antioksidan.
Buah-buahan selain sebagai sumber vitamin, mineral,
serat juga antioksidan terutama buah yang berwarna hitam, ungu, merah. Buah
berwarna, baik berwarna kuning, merah, merah jingga, orange, biru, ungu, dan
lainnya, pada umumnya banyak mengandung vitamin, khususnya vitamin A, dan
antioksidan.
Masyarakat Indonesia terutama balita dan anak usia
sekolah dianjurkan untuk mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 gram per
orang per hari dan bagi remaja dan orang dewasa sebanyak 400-600 gram per orang
per hari. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi tersebut adalah
porsi sayur. Anjuran konsumsi sayuran lebih banyak daripada buah karena buah
juga mengandung gula, ada yang sangat tinggi ada pula yang jumlahnya cukup.
Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat
semakin tinggi kandungan fruktosa dan glukosanya, yang dicirikan oleh rasa yang
semakin manis. Konsumsi buah yang sangat manis dan rendah serat agar dibatasi,
karena buah yang sangat manis mengandung fruktosa dan glukosa yang tinggi.
Asupan fruktosa dan glukosa yang sangat tinggi dapat berisiko meningkatkan
kadar gula darah.
Berbagai kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayuran
dan buah-buahan yang cukup turut berperan dalam menjaga kenormalan tekanan
darah, kadar gula dan kolesterol darah. Konsumsi sayur dan buah yang cukup juga
menurunkan risiko sulit buang air besar (BAB/sembelit) dan kegemukan. Hal ini
menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut berperan
dalam pencegahan penyakit tidak menular kronik. Konsumsi sayuran dan
buah-buahan yang cukup merupakan salah satu indikator sederhana gizi seimbang.
Bagi Ibu Hamil
Kebutuhan asam folat selama kehamilan dibutuhkan
untuk pembentukan sel dan sistem syaraf termasuk sel darah merah. Sayuran hijau
seperti bayam, kangkung, brokoli dan sayur kacang (buncis, kacang panjang dll)
banyak mengandung karotenoid dan asam folat yang sangat diperlukan pada masa
kehamilan. Buah-buahan berwarna seperti pepaya, jeruk, mangga, dan lain-lain
merupakan sumber vitamin yang baik bagi tubuh. Buah-buahan juga banyak
mengandung serat dapat melancarkan buang air besar (BAB). Konsumsi sayur dan
buah yang berserat dapat melancarkan buang air besar mengurangi risiko
sembelit/konstipasi.
Bagi Ibu
Menyusui
Ibu menyusui (Busui) perlu mengonsumsi aneka ragam
pangan yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin dan
mineral karena digunakan untuk pemeliharaan kesehatan ibu dan produksi ASI.
Vitamin C dibutuhkan oleh ibu menyusui untuk membantu penyerapan zat besi yang
berasal dari pangan nabati, sedangkan vitamin D dibutuhkan untuk membantu
penyerapan kalsium. Kebutuhan kalsium meningkat pada saat menyusui karena
digunakan untuk meningkatkan produksi ASI yang membutuhkan kandungan kalsium
tinggi. Bila tidak tercukupi maka ibu berisiko pengeroposan tulang dan gigi
karena cadangan karena cadangan kalsium dalam tubuh ibu digunakan untuk
produksi ASI. Sumber kalsium yang baik adalah susu, yogurt, keju, ikan teri,
kacang-kacangan dan sayuran hijau.
Bagi Bayi
usia 0-24 Bulan
Bayi usia 0-6 Bulan, kebutuhan energi dan zat gizi
lainnya dipenuhi dari ASI. Berikan hanya ASI saja pada tahap ini. Untuk itu,
gizi ibu menyusui sangat penting diperhatikan asupannya.
Bayi usia 6-24 bulan mulai diperkenalkan makanan
pendamping air susu ibu (MP-ASI) di samping pemberian ASI yang dilanjutkan
hingga usia 2 tahun. MP-ASI diberikan secara bertahap sesuai dengan usia anak
mulai dari bentuk lumat, lembik, sampai anak menjadi terbiasa dengan makanan
keluarga. MP-ASI perlu memperhatikan keanekaragaman pangan yang dapat mmenuhi
kebutuhhan zat gizi mikro agar anak dapat bertumbuh kembang secara optimal. Komposisi
MP-ASI yang lengkap terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur
dan buah. Sedangkan komposisi MP-ASI yang sederhana terdiri dari makanan pokok,
lauk hewani atau nabati dengan sayur atau buah.
Bagi Anak
Usia 2-9 Tahun
Dalam upaya memenuhi kebutuhan zat gizi selama
sehari dianjurkan agar anak makan secara teratur 3 kali sehari dimulai dengan
sarapan atau makan pagi, makan siang dan makan malam. Sarapan setiap hari
sangat penting terutama bagi anak-anak karena mereka sedang dalam masa pertumbuhan
dan mengalami perkembangan otak yang sangat bergantung pada asupan makanan
secara teratur. Selain makan utama 3 kali sehari anak usia ini juga dianjurkan
untuk mengonsumsi makanan selingan yang sehat, salah satu contohnya adalah
mengganti camilan tinggi kalori dengan buah-buahan.
Pertumbuhan anak memang membutuhkan makanan yang
kaya protein. Namun tidak hanya itu, sayuran dan buah-buahan juga dibutuhkan
sebagai pangan sumber vitamin, mineral dan serat. Vitamin dan mineral merupakan
senyawa bioaktif yang tergolong sebagai antioksidan, yang mempunyai fungsi
antara lain untuk mencegah kerusakan sel.
Bagi Remaja
Usia 10-19 Tahun
usia 10-19 tahun telah memasuki masa remaja. Anak
remaja lakilaki pada umumnya menyukai aktivitas fisik yang berat dan
berkeringat. Dari sisi pertumbuhan linier (tinggi badan) pada awal remaja
terjadi pertumbuhan pesat tahap kedua, berdampak pada pentingnya kebutuhan
energi, protein, lemak, air, kalsium, magnesium, vitamin D dan vitamin A yang
penting bagi pertumbuhan. Remaja perlu mengonsumsi aneka ragam makanan untuk
memenuhi kebutuhan energi, protein dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral)
karena digunakan untuk pertumbuhan yang cepat, peningkatan volume darah dan
peningkatan haemoglobin.
Zat gizi mikro penting yang diperlukan pada remaja
(khususnya remaja putri) adalah zat besi dan asam folat. Zat besi dibutuhkan
untuk membentuk haemoglobin yang mengalami peningkatan dan mencegah anemia yang
disebabkan karena kehilangan zat besi selama menstruasi. Sedangkan asam folat
digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah,
berperan penting pada pembentukan DNA dan metabolisme asam amino dalam tubuh.
Kekurangan asam folat dapat mengakibatkan anemia
karena terjadinya gangguan pada pembentukan DNA yang mengakibatkan gangguan
pembelahan sel darah merah sehingga jumlah sel darah merah menjadi kurang. Asam
folat bersama-sama dengan vitamin B6 dan B12 dapat membantu mencegah penyakit
jantung. Seperti halnya zat besi, asam folat banyak terdapat pada sayuran
hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan
Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk
informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620,
faksimili: (021) 52921669, dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.









0 comments:
Post a Comment