bangsamandiri.com - Salah satu ciri bahwa ada sikap
sportif dalam diri kita adalah mengakui prestasi orang lain. Sekalipun orang
lain itu adalah lawan dalam pertandingan.
Sikap
seperti itu agak sulit diterapkan, mengingat akan terkait langsung dengan
emosi. Namun, sebagai seorang pramuka tidak ada alasan kalau mentalitas kita
tetap buta untuk mengamati prestasi orang lain.
Apalagi
kalau jelas-jelas prestasi itu terbukti secara nyata. Dengan bahasa yang lebih
singkat, sportif berarti bersikap sehat menghargai orang lain.
Memberi
hadiah atau penghargaan adalah sikap mulia. Tentu, selama tidak disertai maksud
menghinakan atau mencemoohkan. Sikap ini, sebenarnya sudah ada pada setiap dada
manusia. Karenanya, apabila kita telah memberi sesuatu kepada teman sebaya
umpama, tentu akan ada kepuasan tersendiri.
Selain
ada kepuasan batin, bila kita telah memberikan penghargaan juga berdampak
psikologis amat kuat dalam interaksi manusia. Terlebih, kalau orang yang
dihargai itu merasa bahagia juga, akan terbentuk pada akhirnya pribadi-pribadi
yang saling menghargai. Inilah kepribadian luhur bangsa kita yang mesti
dilanggengkan eksistensinya.
Gerakan
Pramuka, seperti sudah maklum bersama, adalah wadah pembinaan anak-anak dan
remaja Indonesia yang ingin membentuk watak dan kepribadian mereka supaya
hidupnya selaras dan sejalan dengan tuntutan manusia yang pancasilais sejati.
Pancasilais
sejati, dalam koridor pemahaman kita adalah mereka yang berbudi pekerti luhur,
baik wataknya dan mampu menempatkan diri sebagai makhluk Tuhan, anggota
bermasyarakat dan sebagai warga negara.
Dalam
pembinaan anak dan remaja, terkadang apa yang dilakukan oleh seorang pembina melenceng
dari sasaran. Terjebak pada verbalisme simbolik dan wujud fisikal semata.
Dengan
kata lain, hanya mengarah pada pembentukan keterampilan dan penampilan,
melupakan sisi lain yang justru lebih strategis dan mundel tentang faktor
hakikat hidup yang juga turut membentuk totalitas kepribadian anak dan remaja,
bahkan jauh lebih menentukan seluruh aspek kehidupannya. Yakni, aspek
mentalitas dan kepribadian yang utuh.
Aspek
mentalitas, atau mentaliteit meminjam istilah Kuntjaraningrat, ahli Antropologi
Indonesia, dimaksudkan untuk menggiring totalitas kehidupan menjadi berguna di
masa depan. Termasuk proses itu sendiri. Atau, pada akhirnya, menjadikan sosok
anak yang lengkap, baik wawasan, keterampilan maupun kerpibadiannya.
Bahwa
semua perangkat kegiatan dalam pembinaan kepramukaan adalah hanya sebagai mean
(alat) untuk mencapai sebuah target pembentukan kepribadian: sikap sehat
(terutama mentalitas), jujur dan arif pada setiap diri pramuka.
Dengan
demikian, Pembina dituntut untuk menerjemahkan tujuan ke dalam bentuk mean agar
target tetap tercapai dengan efektif, dan suguhannya juga menarik bagi anak
didik.
Makna Sportif, Support dan Kejujuran
Sport
asalnya berarti olah raga. Tapi pada perisitilahan sekarang ini sportifitas
sebagai bentuk berikutnya dari kata sport itu mengalami perubahan arti menjadi
kejujuran.
Transformasi
makna tersebut adalah sebagai buah dari hakikat olah raga untuk mencapai sehat.
Sehat memiliki kedekatan arti dengan kejujuran. Jujur adalah mutiara hidup yang
amat berharga. Hampir semua kehormatan manusia ditentukan oleh kejujuran.
Arti
jujur di sini bukan berarti jujur yang polos dan bloon. Tapi jujur yang
sebenarnya, yang memegang kaidah kehidupan beragama, bermasyarakat dan
bernegara. Artinya, secara normatif masuk pada terminasi jujur.
Support
asalnya bermakna dukungan dan sokongan. Keduanya –dukungan dan sokongan— ini
mengarah pada cara-cara yang sehat. Kemudian pada definisi kekinian, support
menjadi padanan dari kata kejujuran. Dalam kajian peristilahan, jujur (honest)
adalah menempatkan sesuatu dalam konteks yang seharusnya.
Kalau
demikian, suatu hubungan yang melibatkan diri kita dengan orang lain dikatakan
benar, apabila menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, sikap hidup sehat dan
menyokong keduanya. Artinya menghilangkan aspek manipulasi, apalagi rekayasa
yang disengaja untuk menguntungkan pihak tertentu saja. Salah satu contoh
kegiatan yang dapat ditawarkan kepada anak didik yang akan menguji kejujuran
mereka adalah acara tukar kado.
Acara
tukar kado adalah sebuah kegiatan yang akan sangat mungkin peserta melakukan
kecurangan. Tapi di sisi lain, justru menjadi sebuah peluang yang akan
memperlihatkan bagaimana karakter anak: apakah jujur atau curang?
Praktik
acara tukar kado seperti sering kita lihat sangat efektif diterapkan. Murah,
karena menggunakan potensi “kemurahan hati” anak. Bisa dilakukan kapan saja,
tidak mengikat dan menuntut waktu khusus. Mengembangkan kreativitas anak,
karena curahan gagasan untuk mengkemas kado akan terlihat betul. Sikap
menghargai teman juga kental dalam kegiatan yang menerapkan pola saling memberi
dan saling menerima ini.
Bagaimana Cara Mensportifkan Anak?
Tindakan
sportif akan selalu dibenarkan di mana saja. Sikap mental ini perlu terus
dipupuk dan dikembangkan dalam rangka mencetak generasi muda masa depan yang
benar-benar bisa diunggulkan. Unggul dalam arti berimplikasi pada pembentukan
motivasi diri yang kuat untuk belajar dari keberhasilan orang lain.
Untuk
menanamkan dan memupuk sportifitas anak didik, seyogianya pembina tidak
segan-segan untuk selalu mengingatkan mereka. Usaha mengingatkan anak didik
bisa dikemas dalam bentuk kegiatan saling menghargai. Umpama, pembuatan dan
pemberian kado antar sesama teman dalam sebuah kegiatan kepramukaan itu dengan
kriteria tertentu.
Secara
teknis, bisa menyampaikan kriteria dengan kiat-kiat sebagai berikut:
•
Bungkus
kado dengan sampul yang wajar dan sederhana, dalam rangka menanamkan
kebersamaan bagi semua peserta, umpama kertas koran, kertas berwarna atau
kertas sampul kado standar;
•
Pilih
dan buatkan corak pemberian bungkus yang menarik, wajar dan nyeni (memiliki
nuansa seni) sesuai kreativitas anak didik; untuk meneliti tingkat daya seni
dan kreasi anak;
•
Ketentuan
harga minimal barang yang dihadiahkan. Ini dimaksudkan untuk mengantisipasi
rasa iri dan cemburu antar mereka, bila salah seorang temannya beruntung
mendapat hadiah yang istimewa (mahal).
•
Pilihlah
jenis barang yang amat berguna bagi orang lain; dimaksudkan untuk mengamati
tenggang rasa antar sesama temannya;
•
Berikanlah
pesan pada kado pemberiannya. Hal itu akan menimbulkan kesan mendalam bagi si
penerima agar jalinan persahabatan dan persaudaraan tetap hangat;
•
Dan
sejumlah kreasi lain yang dianggap perlu serta mungkin diterapkan oleh pembina;
Demikian
beberapa kiat praktis. Di samping itu, pembina juga ada baiknya selalu memberi
sekedar arahan yang sifatnya umum untuk semua kegiatan hadiah-menghadiahi.
Adapun
di antara nilai-nilai pembinaan sewaktu memberikan arahan itu di antaranya
adalah:
1. Penanaman rasa jujur, dengan
mengingatkan anak didik, bahwa jujur berarti jujur bagi diri sendiri.
Sebaliknya, bila kita curang, maka yang paling pertama merasakan akibat yang
akan menimpanya adalah diri kita. Seandainya dia berbuat curang kepada orang
lain. Dialah yang pertama diancam oleh kecurangan itu. Kalau belum terbukti,
suatu ketika waktu akan membuktikannya.
2. Penanaman rasa jujur dengan
kebersamaan, bahwa orang lain sesungguhnya adalah bagian dari diri kita. Bagian
dari sistem yang kita bentuk di masyarakat. Bila kita berbuat keteledoran dan
kejanggalan juga merugikan kita sendiri.
3. Penanaman rasa jujur, dengan
menyatakan dalam diri mereka serta dengan itikad kuat bahwa melakukan kejujuran
adalah sebuah penegakan keadilan dan merupakan pengamalan dari sebuah supreme
sistem kehidupan yang benar-benar murni menjunjung tinggi keadilan.
4. Penanaman rasa jujur, dengan
merasakan bahwa sebuah kejujuran adalah sikap optimis yang akan memenangkan
persaingan pada setiap zaman kapanpun.
Source:
reganapoin.word - Mansur Asy’arie Emegb.







mantap. artikel rekanan kami dipublish lagi....
ReplyDelete