bangsamandiri.com - Ketika hendak membangun rumah bagi kita yang awam tentang material, kita sering di hadapkan dengan kesulitan bagaimana cara menghitung material bangunan yang akan digunakan.
Akhirnya kita mengandalkan pengalaman tukang untuk menghitung, namun konsekuensinya adalah kita hanya akan mendapati jumlah material yang kelebihan atau kekurangan.
Bagi anda yang memiliki dana yang terbatas, tentu saja tidak ingin perhitungannya kelebihan sehingga membuang biaya, karena material yang tidak terpakai, atau kalaupun terpakai pada akhirnya menambah item pekerjaan dan tentu saja menambah biaya pekerjaan.
Pada pembahasan kali ini saya coba menerangkan bagaimana cara menghitung kebutuhan material untuk material dinding.
Ada tiga material dinding yang saat ini sering digunakan kebanyakan orang untuk membangun rumahnya yaitu bata ringan (hebel), bata merah dan batako. sebenarnya ada lagi beberapa material dinding yang dikeluarkan oleh beberapa produsen seperti holcim, atau drymix dengan i brick nya.
Cuma memang dua material yang disebutkan terakhir belum cukup populer dan belum banyak ditemukan di tokomaterial.
Yang coba saya sampaikan di sini hanya tiga jenis material dinding yang biasa digunakan kebanyakan orang dan mudah mendapatkannya, yaitu bata ringan hebbel, bata merah dan batako.
1. Bata Ringan (Hebel)
Bata ringan adalah bata yang memiliki berat jenis lebih ringan daripada bata pada umumnya.
Bata ringan dikenal ada 2 (dua) jenis: Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Keduanya didasarkan pada gagasan yang sama yaitu menambahkan gelembung udara ke dalam mortar akan mengurangi berat beton yang dihasilkan secara drastis. Perbedaan bata ringan AAC dengan CLC dari segi proses pengeringan yaitu AAC mengalami pengeringan dalam oven autoklaf bertekanan tinggi sedangkan bata ringan jenis CLC yang mengalami proses pengeringan alami. CLC sering disebut juga sebagai Non-Autoclaved Aerated Concrete (NAAC).
Sebelum menghitung kita mesti tahu dulu ukuran bata ringan itu sendiri. Ada dua jenis ukuran bata ringan yang sering ditemukan di toko material, yaitu :
1. p x l x t : 60 x 7.5 x 20 cm
2. p x l x t : 60 x 10 x 20 cm
Maka untuk menghitung kebutuhan bata ringan dan perekatnya yaitu mortar adalah sebagai berikut :
Tentukan dahulu luas permukaan bata ringan, yang akan menajdi permukaan dinding nantinya yaitu 60 x 20 cm (baik tebal 10 cm maupun 7.5 cm memiliki luas permukaan yang sama) Luasnya yaitu 0.6 x 0.2 = 0.12 m2. maka untuk mendapatkan kebutuhan bata ringan dalam 1 m2 adalah 1 m2/ 0.12 m2 = 8.33 buah bata ringan.
Tentukan dahulu luas permukaan bata ringan, yang akan menajdi permukaan dinding nantinya yaitu 60 x 20 cm (baik tebal 10 cm maupun 7.5 cm memiliki luas permukaan yang sama) Luasnya yaitu 0.6 x 0.2 = 0.12 m2. maka untuk mendapatkan kebutuhan bata ringan dalam 1 m2 adalah 1 m2/ 0.12 m2 = 8.33 buah bata ringan.
Berarti dalam satu 1 m2 membutuhkan sebanyak 8.33 buah bata ringan. Bagaimana dengan perekatnya. Perekat yang umum digunakan biasanya memiliki daya sebar sebagai berikut :
ALC : 7.5 cm : kurang lebih 16 m2/40 kg (per sak)/ dengan ketebalan 3 mm
ALC : 10 cm : kurang lebih 10 m2/40 kg (per zak)/dengan ketebalan 3 mm
ALC : 10 cm : kurang lebih 10 m2/40 kg (per zak)/dengan ketebalan 3 mm
Berarti kebutuhan untuk 1m 2 perekat mortar untuk ALC 7.5 cm adalah : 2.5 kg atau 0.0625 sak. sedang untuk ALC 10 cm adalah : 4 kg/0.1 sak.
Misalkan kita ingin membuat pagar dengan panjang 8 m dan tinggi 2m, berapa kebutuhan material tersebut. Maka kita harus menghitung terlebih dahulu luas total pagar tersebut yaitu 8 m x 2 m = 16 m2, maka kebutuhan materialnya adalah sebagai berikut :
Asumsinya menggunakan bata ringan ALC dengan tebal 10 cm
1. Bata ringan : kebutuhan 1m2 x total luas pagar tersebut = 8.33 buah x 16 m2 = 133.28 buah, atau kalau membeli dalam kuota kubikasi adalah 133/111 = 1,198 m3 ( 1 m3 ukuran alc 10 cm adalah 111 buah)
2. Mortar : kebutuhan mortar per 1 m2 x total luas pagar tersebut = 0.1 sak x 16 m2 = 1.6 sak mortar
1. Bata ringan : kebutuhan 1m2 x total luas pagar tersebut = 8.33 buah x 16 m2 = 133.28 buah, atau kalau membeli dalam kuota kubikasi adalah 133/111 = 1,198 m3 ( 1 m3 ukuran alc 10 cm adalah 111 buah)
2. Mortar : kebutuhan mortar per 1 m2 x total luas pagar tersebut = 0.1 sak x 16 m2 = 1.6 sak mortar
Dengan perhitungan sederhana di atas kita sudah dapat menentukan kebutuhan bata ringan dan perekat yang kita butuhkan.
2. Bata Merah
Bata merah merupakan salah satu jenis bahan dasar pembangunan rumah yang sudah sangat umum digunakan di Indonesia, dari zaman dulu hingga zaman modern seperti saat ini bata merah memang sudah menjadi salah satu bahan wajib di dalam membangun rumah.
Bata merah yang dimaksud adalah bata yang dibuat dari tanah yang dicetak kemudian dibakar dengan suhu tinggi sehingga menjadi benar-benar kering, mengeras dan berwarna kemerah-merahan. Tanah yang digunakan pun bukanlah sembarang tanah, tapi tanah yang agak liat sehingga bisa menyatu saat proses pencetakan. Karena itulah, rumah yang dindingnya dibangun dari material bata merah akan terasa lebih nyaman dan adem. Selain lebih kuat dan kokoh serta tahan lama, sehingga jarang sekali terjadi keretakan dinding yang dibangun dari material bata merah. Selain itu Material ini sangat tahan terhadap panas sehingga dapat menjadi perlindungan tersendiri bagi bangunan Anda dari bahaya api.
Umumnya memiliki ukuran: panjang 17-23 cm, lebar 7-11 cm, tebal 3-5 cm.
Berat rata-rata 3 kg/biji (tergantung merek dan daerah asal pembuatannya).
Bahan baku yang dibutuhkan untuk pasangan dinding bata merah adalah semen dan pasir ayakan. Untuk dinding kedap air diperlukan campuran 1:2 atau 1:3 (artinya, 1 takaran semen dipadu dengan 3 takaran pasir yang sudah diayak). Untuk dinding yang tidak harus kedap air, dapat digunakan perbandingan 1:4 hingga 1:6
Kelebihan bata merah dengan material yang lain adalah dari segi kekuatannya, Stabil, tidak mudah goyah dan keras.
Untuk menghitung kebutuhan bata merah dan perekatnya, kita menggunakan analisa bahan yang biasa digunakan para estimator. Analisa bahan ini merupakan model perhitungan analisa berdasarkan pengalaman para insinyur lapangan. Contoh analisa untuk pemasangan bata merah sebagai berikut :
Dalam analisa di samping pengertiannya adalah bahwa dalam 1 m2 pasangan bata dengan adukan 1 : 4 maka kita membutuhkan :
1. Bata Merah : 70 buah
2. PC/Semen : 11.5 Kg
3. Pasir : 0.043 m3
2. PC/Semen : 11.5 Kg
3. Pasir : 0.043 m3
Maka bila kita ingin membuat pagar dengan menggunakan bata merah dengan ukuran yang sama yaitu 16 m2, yaitu :
1. Bata Merah : 70 x 16 = 1120 buah
2. PC/Semen : 11.5 x 16 = 184 kg atau 3.68 zak (ukuran 50 kg/zak)
3. Pasir : 0.043 x 16 = 0.688 m3
2. PC/Semen : 11.5 x 16 = 184 kg atau 3.68 zak (ukuran 50 kg/zak)
3. Pasir : 0.043 x 16 = 0.688 m3
3. Batako
Selanjutnya kita akan membahas tentang batako, material dinding dari batako ini umumnya dibuat dari campuran semen dan pasir kasar yang dicetak padat atau dipress. Selain itu ada juga yang membuatnya dari campuran batu tras, kapur dan air. Bahkan kini juga beredar batako dari campuran semen, pasir dan batubara. Dengan bahan pembuatan seperti yang telah disebutkan, batako memiliki kelemahan yaitu kekuatannya lebih rendah dari bata merah, sehingga cenderung terjadi keretakan dinding, terutama jika bagian kosong-nya tidak diisi dengan adukan spesi. Pemakaian material batako untuk dinding juga membuat bangunan lebih hangat bahkan cenderung pengap dan panas.
Sama seperti bata merah, untuk menghitung batako kami juga menggunakan analisa harga satuan yang dibuat berdasarkan pengalaman para insinyur. Berikut analisa tersebut :
Dalam 1 m2 pasangan dinding batako dibutuhkan sebagai berikut :
Material Satuan Volume 1 m2
Batako buah 13
PC/Cement Kg 1.6
Pasir pasang m3 0.05
Batako buah 13
PC/Cement Kg 1.6
Pasir pasang m3 0.05
Berarti dalam 1 m2 pasangan batako material yang dibutuhkan untuk membuat dinding batako adalah seperti analisa di atas. Dengan kasus yang sama bila kita ingin membuat pagar dengan luas 16 m2, maka kebutuhan materialnya adalah sebagai berikut :
Batako = 12.5 buah x 16 m2 = 200 buah
PC/cement = 1.6 kg x 16 m2 = 25.6 kg atau 0.512 zak
Pasir = 0.05 m3 x 16 m2 = 0.8 m3
PC/cement = 1.6 kg x 16 m2 = 25.6 kg atau 0.512 zak
Pasir = 0.05 m3 x 16 m2 = 0.8 m3
Dari model perhitungan ketiga material tersebut anda sudah bisa menentukan kebutuhan material untuk dinding yang sesuai dengan keinginan anda. Selamat mencoba.
Source: ilmubangunanpraktis.blog
Source: ilmubangunanpraktis.blog








0 comments:
Post a Comment