bangsamandiri.com - Masjid Jogokariyan
Yogyakarta terus menjadi perbincangan hangat dikalangan para jamaahnya.
Baru-baru ini, hal yang banyak diperbincangkan yakni saldo kas masjid yang
selalu Rp. 0,- saat diumumkan..
Jika masjid lain dengan bangga mengumumkan bahwa
saldo infaknya puluhan bahkan ratusan juta rupiah, berbeda dengan Masjid
Jogokariyan selalu berupaya keras agar di tiap pengumuman saldo-infak harus NOL
Rupiah !!!
Menurut LKM Masjid, Infak itu ditunggu pahalanya
untuk jadi amal sholeh, bukan untuk disimpan di rekening bank.
Pengumuman infak jutaan juga dihawatirkan akan
menyakitkan jika tetangga Masjid ada yang tak bisa ke rumah sakit karena tak
punya biaya atau tak bisa sekolah. Masjid yang menyakiti Jamaah adalah tragedi
da'wah, sehingga dengan pengumuman saldo infak NOL Rupiah, maka jamaah lebih
bersemangat mengamanahkan hartanya.
Bahkan masjid ini malah mensejahterakan warganya
dengan fasilitas wifi gratis, ruang olah raga untuk anak anak dan dewasa, buka
puasa 5000 piring nasi setiap hari selama bulan ramadhan..
Masjid juga sanggup mencover warganya yang sakit
dengan membawa Kartu Sehat Mesjid ke Rumah Sakit dan Klinik manapun di Jogja.
Termasuk memberi hibah umrah bagi jamaah yang istiqomah shalat subuh di Mesjid.
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain
kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan
orang-orang yang mendapat petunjuk” - (QS. At-Taubah 18)
22 Point Terpenting dari Masjid Jogokariyan
Masjid Jogokariyan menjadi masjid percontohan
masjid yang makmur kegiatan di seluruh Indonesia.
1.
Masjidnya hanya berlokasi di tanah wakaf 700 m2
tapi dengan 3 lantai, dan hanya masjid kampung (bukan masjid jami').
2.
Kampung Jogokariyan dulunya bukan basis Muslim
yg kuat.
3.
Takmir mendata statistik kampung sekitar masjid
(yg sudah sholat/belum, yg sholat jamaah ke masjid/belum, yg muslim/non muslim,
beserta semua anggota keluarganya) untuk pemetaan target dakwah.
4.
Takmir masjid berusaha menggembirakan masyarakat
dan membuat mereka mau bersujud dgn berbagai cara yang syar'i.
5.
Setelah mereka mau datang ke masjid, harus
dibuat nyaman dan diisi dengan taklim-taklim ringan.
6.
Takmir tidak boleh memarahi anak-anak yang ramai
di masjid, tapi memberikan hadiah makanan ringan kalau tidak ramai dan
mengganggu jamaah di masjid.
7.
Yg blm jamaah ke masjid/belum sholat dibuat
undangan seperti pernikahan dan disediakan makanan di masjid saat acara sholat
jamaah. Makanan ditawarkan pada jamaah yang mau menjadi donatur untuk
mentraktir makanan.
8.
Yg belum bisa sholat diajari sholat oleh takmir
(di masjid atau di rumah masing2)
9.
Kas masjid tidak pernah besar bahkan targetnya
adalah 0 (nol) tiap akhir bulan, karena kas masjid yg besar tanda takmir tidak
bisa mengelola infaq jamaah menjadi pahala yg segera mengalir ke penginfaq.
10. Ada
sarapan bubur, lontong sayur, susu kedelai, dll tiap minggu ba'da subuh.
11. Ada
500 - 1000 nasi bungkus tiap ba'da jumat (dana swadaya jamaah).
12. Ada
divisi usaha penyewaan kamar penginapan di lantai 3 masjid untuk membayar
petugas kebersihan dan tambahan operasional masjid.
13. Tidak
ada gaji untuk takmir kecuali petugas kebersihan, karena gaji dari Allah tidak
ada maksimalnya, sementara gaji manusia ada minimumnya (UMR).
14. TPA
diajar oleh anak2 RISMA/RMJ.
15. Ada
infaq beras (kotak amal khusus beras) untuk disalurkan ke dhuafa', walaupun
sekarang isi kotak infaq beras itu berubah jadi uang, karena jamaah malas bawa
beras. Bantuan untuk dhuafa' ini diambil di masjid ba'da subuh.
16. Masjid
buka 24 jam dan ada WiFi gratis 24 jam.
17. Taklim
untuk jamaah sangat banyak baik siang maupun malam.
18. Ada
angkringan di depan masjid (tongkrongan) untuk jamaah ngobrol dan orang2 mampir
istirahat.
19. Jika
masjid dikelola dengan benar dan dipercaya jamaah, maka dana2 infaq dan dari
donatur sangat mudah didapat, termasuk untuk donatur makanan, dll.
20. Jika
kas masjid banyak justru jamaah malas menyumbang, tapi jika sedikit mereka akan
tergerak untuk infaq.
21. Masjid
itu milik Allah (QS AlJin: 18) sehingga rezeki masjid akan dijamin oleh pemilik
masjid (Allah) dan takmir hanyalah pelayan umat (jamaah)
Masjid kampung ini memiliki sejarah panjang dan
juga dikenal dunia. Masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan
pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri,
Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan
Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta
Hal ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yakni
memberi nama masjid sesuai dengan di mana masjid itu berada.
"Rasulullah berdakwah di Quba, namanya Masjid
Quba, beliau berdakwah di Bani Salamah, masjidnya juga namanya Bani Salamah
sesuai dengan nama tempatnya," jelas salah seorang pengurus masjid di
bidang kesekretariatan Masjid Jogokariyan, Enggar Haryo Panggalih saat ditemui
detikcom pada 2015 silam.
Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang
pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid terletak di sebelah
selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid
pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah
kampung.
Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala
perkembangannya Masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung.
Pembangunannya bertahap. Awalnya masjid ini hanya
terdiri dari sebuah bangunan inti saja. Baru kemudian berkembang, setelah tahun
2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.
Pada 2006, ada sebuah rumah warga di sebelah masjid
yang runtuh. Dia menawarkan pihak masjid untuk membeli lahan tersebut. Hingga
luas kompleks masjid bertambah.
Dari penawaran itu kemudian pihak masjid membuka
kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di Islamic Center Masjid
Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan.
![]() |
| afiyah12nur.blogspot.com |
Banyaknya kegiatan yang berjalan di masjid
Jogokariyan inilah yang membuat masjid ini tak pernah sepi. Meski di luar Bulan
Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini menarik perhatian masyarakat
muslim tak hanya di luar Yogyakarta tapi juga luar negeri. Masjid juga memiliki
website sederhana.
"Banyak yang studi banding. Beberapa tahun
lalu, parlemen Eropa ke sini. Pernah juga ulama Palestina berkunjung,"
jelas Galih.
"Mereka juga bertanya kok bisa masjid kampung,
karena kelas kami kelas kampung, bukan masjid agung, masjid kota tapi kok bisa
mendunia," imbuhnya.
Galih mengatakan rahasianya ada pada sebuah prinsip
yang dipegang para pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Pengurus masjid
bukan sekedar mengurus masjid tapi juga melayani jamaah.
"Kita punya klinik, ada divisi-divisi yang
langsung ke masyarakat. Kotak infaq yang besar dan lubangnya juga besar, kalau
ada yang mau ngasih Rp 5 juta juga masuk," tutur Galih.
Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid Jogokariyan,
Yogyakarta. Foto: Usman Hadi/detikcom
Galih menilai masyarakat melihat bagaimana uang
dari infaq berputar untuk kepentingan jamaah. Dan menurutnya, sudah seharusnya
seperti itu. Uang perolehan infaq seharusnya segera digunakan untuk keperluan
umat.
"Bukan diendapkan, tapi selalu diputar. Selalu
ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk jamaah," tuturnya.
Source:
galamedianews - Editor: Kiki Kurnia









0 comments:
Post a Comment